Responsive Advertisement

Pasar Seni Malah Terbengkelai

02 Februari 2016 - 12:43:03 | 37476 | BERITA DAERAH


DL/02022016/Bandarlampung

--- Kondisi Pasar Seni Enggal (PSE) kini makin semrawut dan terbengkelai. Ini ditengarai usai penyerahan pengelolaan Pasar Seni dari Pemerintah Kota Bandarlampung di Provinsi Lampung beberapa waktu lalu, akibatnya malah mundur.
Sorotan ini diungkapkan Komite Pemantau Kebijakan Anggaran Daerah (KPKAD) Lampung, dan  mendesak Pemerintah Provinsi segera mengambil tindaklanjut pengelolaan pasca pengalihan aset Pasar Seni Enggal (PSE) ini.
Koordinator Presidium KPKAD Lampung, Ginda Ansori, mengungkapkan bahwa setelah dialihkan kewenangan pengelolaannya kepada Pemerintah Provinsi, kondisi PSE justru terbengkalai.
Pantauan di lapangan, fasilitas yang sebelumnya dapat dinikmati selama ini nyaris semuanya dicabut. “Mulai dari listrik, air sampai Pol PP yang jaga saja, sudah tidak ada semua,” Ujarnya
Ginda mengatakan Pemprov Lampung telah melanggar Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 /2002 tentang Bangunan Gedung.
Pasal 61, katanya, setiap bangunan gedung untuk kepentingan umum harus menyediakan kelengkapan prasarana dan sarana pemanfaatan bangunan gedung, meliputi ruang ibadah, ruang ganti, ruang bayi, toilet, tempat parkir, tempat sampah, serta fasilitas komunikasi dan informasi untuk memberikan kemudahan bagi pengguna bangunan gedung dalam beraktivitas dalam bangunan gedung.
“Sekarang ini Pemprov secara sengaja memutus aliran listrik dan air di fasilitas yang menjadi tanggung jawab pengelolaanya, itu kan keterlaluan namanya,” katanya.
Mulai Kumuh
Pengunjung akan disuguhi pemandangan yang kurang sedap. Sampah dedaunan berserakan di mana-mana. Selain itu, rumput liar turut memberi kesan kumuh. Kondisi itu terlihat di 14 pondok yang kini tidak berpenghuni.
Toilet umum, kondisinya sangat tidak layak. Tak ada air bersih yang mengalir, nampaknya menjadi penyebab aroma air seni (pesing-red) menyengat. Sampah berserakan di bilik-bilik toilet.
Tak ada satu pun lampu yang menempel di atap toilet. Rasanya untuk buang air di sana diperlukan keberanian. “Pemprov jangan dulu mikir bangun perpustakaan senilai Rp100 miliar, kalau urus masalah orang buang air saja masih belum beres,” katanya.
Sementara seorang pelatih tari di PSE, Uul (43) mengatakan, kondisi tempat itu sangat memprihatinkan. Selain listrik, air bersih juga tidak tersedia. “Mau buang air saja harus numpang ke Lotus,” ujarnya kepada wartawan.
Kondisi ini dibenarkan oleh Helmy, pengelola sanggar seni Sangsaka di PSE. Menurutnya sejak akhir tahun 2015, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bandarlampung memang sudah menyerahkan pengelolaan PSE kepada Pemerintah Provinsi Lampung.
Akibatnya, fasilitas yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah kota Bandarlampung, seperti listrik, air bersih dan pengamanan  dari Polisi Pamong Praja (Pol PP) setempat dicabut seluruhnya. (Zai)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement