Responsive Advertisement

Ini Tanggapan Kuasa Hukum Mantan Ketua Petir Lampung

Surat laporan penggelapan. (Foto:Lampost/Febi H)
BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Menanggapi adanya pelaporan terhadap Endang Asnawi (mantan Ketua Petir Lampung), Kuasa Hukum terlapor  Ginda Ansori Wayka membenarkan hal itu.
"Pelapor melaporkan Klien Kami karena Pelapor menganggap Klien Kami belum membayar sepenuhnya kesepakatan pembagian hasil dari penjualan tanah milik ibu pelapor yakni almarhumah Maryanah dan Suherti yang ada di Natar," katanya.

 
Ginda mengatakan, bahwa laporan ini kemudian dihentikan oleh Kepolisian Daerah Lampung karena laporan terhadap Klien Kami tidak cukup bukti dalam memenuhi ketentuan sebagaimana Pasal 372 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Penggelapan.

Berita Terkait: Perkara Jual Beli Tanah, Mantan Ketua Petir Lampung Dilaporkan

Ada beberapa dasar hukum bahwa laporan ini untuk tidak ditingkatkan ke penyidikan (dihentikan) salah sarunya Almarhumah Maryanah (Ibu Pelapor) dan Suherti telah memberikan kuasa kepada Kliennya untuk menjual sebidang tanahnya di Natar dengan surat kuasa menjual tanggal 24 Oktober 2008. 
Dari penjualan ini ibu pelapor meminta Rp2 miliar dari hasil penjualan, karena ibunya Pelapor dan Suherti sudah menerima prestasi dari kliennya, maka surat kuasa menjual tersebut dinyatakan kadaluarsa  karena perjanjian telah berakhir dengan alasan telah terpenuhi kesepakatan atau isi perjanjiannya.
"Selama 5 tahun dari tahun 2012 saat penyerahan hasil penjualan tanah tersebut hingga tahun 2017 (saat Ibu Pelapor Maryanah) meninggal dunia, baik Almarhum Maryanah maupun Suherti tidak komplain/keberatan atau upaya lain untuk menagih kekurangannya kalaupun ada kekurangan ataupun melaporkan klien kami ke Kepolisian karena telah menggelapkan dana yang menjadi haknya," kata dia.
Menurut Ginda, sangat janggal apabila ahli waris (anak Almarhumah Maryanah/pelapor) yang notabene tidak terlibat sama sekali dalam proses perkara dan proses jual beli ini menyatakan Klien Kami  telah menggelapkan dana hasil penjualan tersebut, karena menurut pelapor  hitungan yang harus diterima Almarhumah Maryanah (Ibu Pelapor) dianggap kurang, sementara Almarhumah Maryanah (Ibu Pelapor) selama hidupnya (5 tahun sejak penjualan hingga meninggal dunia) tidak pernah mengeluh atau menyatakan kurang.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement