Responsive Advertisement

Dampak Reklamasi Teluk Lampung, Sebabkan Kematian Ikan


BANDARLAMPUNG,- Selain memunculkan dugaan korupsi yang di lakukan Wali Kota Bandarlampung Herman HN, atas pembangunan proyek Reklamasi dan sekarang muncul permasalahan baru akibat pembangunan proyek tersebut.
Yaitu munculnya Alga Merah hasil dari proyek Reklamasi Pemerintah Kota Bandarlampung, hal tersebut menimbulkan permasalahan seperti banyaknya ikan yang mati akibat Alga Merah.
Menanggapi hal tersebut, menurut Pengamat Hukum, Ghinda Anshori. Pemerintah Kota Bandarlampung wajib dilibatkan untuk menangani permasalahn tersebut, pasalnya proyek tersebut milik Pemkot dan lokasi dari daerah tersebut masih dilingkup Pemerintah Kota Bandarlampung.
“Kalau setahu saya, Pemerintah Provinsi tidak ada namanya proyek Reklamasi, jadi itu proyek Pemerintah Kota Bandarlampung, jadi untuk menangani permasalah tersebut memang Pemerintah Kota Bandarlampung harus turun tangan, sebab ini merupakan proyek Pemerintah Kota, namun disamping itu Pemerintah Provinsi lampung juga akan membantu untuk penenganan masalah itu,” ucap Ghinda Anshori, saat di hubungj Fajar Sumatera, Kamis (8/6).
Kendati demkian, dirinya mengharapkan agar Pemerintah Provinsi maupun Kota agar dapat menengani permasalah tersebut, sebab jika permasalaham itu tidak cepat ditangani oleh kedua belah pihak dikhawatirkan dapat berdampak pada perekonomian para nelayan.
“Misalkam Alga-Alga tersebut telah membeludak jumlahnya, maka nantinya ikan-ikan yang berada disana akan mati, jika mati maka jumlah tangkapan ikan para nelayan akan berkurang jumlahnya,” paparnya.
Diduga, selain menimbulkan Kopursi dari proyek tersebut juga dapat  merugikan warga sekitar garis pantau tersebut seperti nelayan menurunnya jumlah angka tangkapan ikan.
“Jika hal tersebut telah terjadi siapa yang akan dirugikan, tentunya masyatakat sekitar yang mengandalkan mata pencarian dari laut,” katanya.
Sebelum, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung segera melakukan rapat koordinasi bersama pengawas serta Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kelautan dan Perikanan untuk melakukan penelitian dan mencari solusi dalam mengatasi kematian ikan di Teluk Lampung. Hal tersebut akibat meningkatnya populasi fitoplankton khususnya alga merah dari jenis Cochlodinium polykrikoides.
Sekretaris DKP Lampung, Toga Mahaji, kepada Fajar Sumatera, menjelaskan fenomena populasi alga merah yang kian hari semakin naik salah satu faktor terbesarnya adalah ekosistem laut yang sudah rusak akibat reklamasi penimbunan bibir pantai.
Ditambah lahan bakau yang saat ini sudah mulai berkurang. Toga menguraikan alga Cochlodinium polykrikoides atau biasa dikenal sebagai ganggang merah memiliki ciri khas sangat berlendir. Oleh karena itu, bila jumlahnya sangat besar, alga tersebut dapat mengganggu dan menutupi insang ikan, sehingga ikan tidak bisa bernafas.
Menurut Toga, peristiwa yang terjadi di Teluk Lampung, populasi alga tersebut sampai menutupi perairan, sehingga ikan-ikan yang ada di keramba mati lemas secara massal.
“Alga ini salah satu fitoplankton kelas dinoflagellata yang termasuk dalam kategori harmful algal bloom (HAB). Plankton jenis ini akan sangat berbahaya bila populasinya berlimpah,” tegas Toga.
Untuk mencegah hal ini terulang terus menerus, pihaknya dalam hal ini DKP berharap agar peraturan perundang-undangan terkait reklamasi pantai untuk disesuaikan dalam Undang Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2014 tentang perubahan UU Nomor 27 Tahun 2007 berisikan tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
“Reklamasi pantai benar-benar menjadi faktor penyokong timbulnya fenomena ini,” ujarnya.
Penggiat lingkungan dan pariwisata dari Komunitas Senyum (Konyum) Yeye, mengatakan hal sama pernah terjadi empat tahun lalu akibat adanya pengerukan dermaga Pelabuhan Panjang. Peristiwa akhir tahun 2012 itu, menjadikan populasi alga merah sampai menutupi perairan Teluk Lampung sehingga banyak ikan yang mati, termasuk ikan di keramba.
Pihaknya pun berharap, para pemangku kepentingan segera turun untuk menekan dampak negatif dari masyarakat yang menggantungkan hidupnya di Teluk Lampung. (JI)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement