Responsive Advertisement
Mantan Bupati Dituduh Bawa Puluhan Preman dan Senjata Tajam Rusak Rumah, Ini Kata Mance Senin, 30 Januari 2017 09:11 BANDAR LAMPUNG, TRIBUN - Mantan Bupati Tulangbawang Abdurahman Sarbini alias Mance dilaporkan R Galuh Niagari Carepeboka ke Polresta Bandar Lampung, Sabtu (28/1). Pelaporan tersebut karena Mance diduga melakukan perusakan rumah milik Syabrun Caropeboka, orangtua Galuh di Jalan Hos Cokro Aminoto, Nomor 44 RT 01/RW 02 Enggal, Kecamatan Enggal, eks hotel Mahligai Puri, pada Sabtu malam. Menurut Ansori, kuasa hukum keluarga Syabrun, perusakan diduga dilakukan Mance bersama anaknya dan puluhan preman. Mereka, kata Ansori, mengubrak abrik rumah serta mengeluarkan barang dari rumah, bahkan sempat mengancam pemilik rumah. "Tadi malam (kemarin malam), Mance datang bersama puluhan orang bawa kayu, linggis, dan golok. Pelapor korban dipaksa keluar dari rumah. Semua kaca-kaca rumah hancur berantakan dan barang-barang milik keluarga dikeluarkan secara paksa sehingga banyak yang rusak," kata Ansori. Hingga saat ini, lanjut dia, pemilik rumah tidak bisa kembali ke rumah karena dijaga orang-orang Mance. "Akibat kejadian tersebut, korban dan keluarganya mengalami trauma psikis," jelasnya.. Menurut Ansori, sehari sebelum kejadian, Richard, putra Mance, sempat datang ke lokasi dan mengeluarkan barang-barang dari rumah dengan merusak gembok pintu dan kamar. "Atas tindakan putra Mance, keluarga Syabrun sudah melaporkan Richard ke Polda Lampung berdasarkan LP/B/113/I/2017/SPKT, tanggal 27 Januari 2017 dengan pelapor RJ Abdul Berbasit Carepoboka," bebernya. Dia menambahkan, insiden perusakan diduga karena Mance mengklaim tanah yang dihuni keluarga Syabrun seluas seluas 741 meter persegi. Abdurahman Sarbini yang dikonfirmasi membantah telah melakukan perusakan seperti yang dituduhkan oleh ahli waris Syabrun. Menurut dia, tindakanya itu adalah untuk mengamankan aset yang sudah dibelinya sekitar empat tahun lalu. "Sekitar empat tahun lalu saya beli rumah itu dan dibuktikan dengan kuitansi berita acara penyerahaan, surat pernyataan ahli waris yang menyetujui untuk menjual aset itu kepada saya, beserta copy sertifikat. Tapi sampai sekarang mereka masih menghuni rumah itu yang sebenarnya bukan hak orangtua mereka lagi," kata Mance. Dan beberapa hari lalu sambung Mance ia mendegar rumah yang dibelinya akan dibuka kafe oleh penghuninya. "Saya larang, saya kasih peringatan baik lisan maupun tertulis, secara baik-baik, tapi tidak diindahkan malah mereka nambah jadi, rumahnya dicat dan direnovasi diubah untuk jadi kafe," jelasnya. Karena tidak digubris, pada Sabtu malam itu Mance bersama Bhabinkhmatibas, RT, dan beberapa warga mengambil tindakan pengosongan rumah tersebut. "Saya ambil tindakan, karena mereka menyerobot dan merusak aset saya, bisa pasal 480 KUHAP. Malam itu saya minta bantuan Bhabinkhamtibas, RT dan warga menyaksikan mengeluarkan barang-barang dari rumah itu, tapi mereka melawan dan malah memasukin lagi barang-barangnya," jelasnya. Mance menambahkan, pihaknya sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ke Polda Lampung dan Polresta Bandar Lampung.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement