Responsive Advertisement
Ahli waris almarhum Syabrun Caropeboka laporkan mantan bupati Tulangbawang ke Polresta Bandarlampung Sun, 29 Jan 2017 setialampung.com – R. Galuh Niagari Caropeboka, ahli waris almarhum Syabrun Caropeboka melaporkan mantan bupati Tulangbawang Abdurrahman Sarbini ke Polresta Bandarlampung. Di dalam laporan nomor LP/B/421/I/2017/LPG/RESTA BALAM tertanggal 28 Januari 2017 itu, Galuh melaporkan Abdurrahman Sarbini atau yang disapa Mance beserta anaknya karena diduga secara paksa mengeluarkan barang – barang yang ada di dalam rumah (eks Hotel Mahligai Puri) milik orangtuanya (almarhum Syabrun Caropeboka). Selain itu, Galuh melaporkan Mance dan anaknya ke Polresta Bandarlampung karena pada saat mengeluarkan barang – barang miliknya, Mance diduga melontarkan kata – kata kotor dan melakukan pengancaman terhadap diri dan keluarganya yang menempati rumah (eks Hotel Mahligai Puri) tersebut. Galuh mengatakan, pada 26 Januari 2017 pihaknya didatangi anak Mance yang memaksa pihak keluarganya untuk mengeluarkan barang – barang atau isi rumahnya. Dan membongkar paksa pintu rumah dengan alasan sudah membeli rumahnya. “Lalu saya minta untuk diperlihatkan surat jual beli dan balik nama surat rumahnya. Karena kami sebagai ahli waris tidak pernah mengetahui terjadinya transaksi jual beli rumah milik orangtua kami ini. Karena yang menjual rumah ini yaitu adik saya yang bernama Agung Kusuma dan ibu saya yang sudah berusia lanjut,” ujarnya didampingi kuasa hukumnya Ansori. Lalu, katanya, menurut informasi yang diperolehnya, aset milik orangtuanya ini telah dijual oleh Agung karena adik bungsunya ini (Agung) memiliki hutang dengan Mance senilai Rp200 juta. Sehingga diduga aset milik orangtuanya itu terjual dan dibeli oleh Mance dengan pembayaran dipotong hutang Agung. “Transaksi jual beli rumah orangtua saya ini dilakukan di bawah tangan. Karena jual beli dilakukan tidak dihadapan notaris. Selama ini, rumah orangtua kami itu ditempati saya dan adik – adik saya,” katanya, Minggu (29/1). Sementara Abdurrahman Sarbini ketika dihubungi setialampung.com melalui ponselnya membantah hal tersebut. Mantan bupati Tulangbawang dua periode ini menegaskan, pihaknya melakukan pengosongan rumah almarhum Syabrun Caropeboka itu dengan mengeluarkan barang – barang yang ada di rumah tersebut karena rumah itu sudah menjadi miliknya. “Saya beli rumah itu lima tahun yang lalu dan sudah lunas. Pembelian rumah itu disaksikan dan diketahui istri dan anaknya almarhum Syabrun Caropeboka. Saya punya bukti kuitansi, sertifikat rumah dan surat kuasa untuk menjual rumah tersebut. Dan kami mengeluarkan barang atau isi rumah itu disaksikan juga RT setempat, dan aparat kepolisian dan tidak ada pengancaman,” tegasnya. Mance mengungkapkan, pihaknya membeli rumah milik almarhum Syabrun Caropeboka tersebut dengan dua kali pembayaran. Pembayaran pertama sebesar Rp 1 miliar dan pembayaran kedua senilai Rp 1,250.000.000. “Jadi, rumah itu saya beli seharga Rp 2.250.000.000 (dua miliar dua ratus lima puluh juta rupiah). Pembayarannya dua kali di rumah saya. Pembayaran pertama sebesar Rp 1 miliar dan pembayaran yang kedua sebesar Rp 1 miliar 250 juta. Uangnya diserahkan di rumah saya dan disaksikan pemilik rumah yaitu Ratu Rulya Sy. Carepeboka (istri alhamrhum Syabrun Caropeboka), dan disaksikan anaknya Musadaq dan Raja Agung Kusuma,” ungkapnya. Ketika ditanya perihal apakah sebelumnya salah satu ahli waris rumah yaitu Raja Agung memiliki hutang dengannya, Mance menegaskan, Agung tidak pernah memiliki hutang atau pinjam uang dengannya. “Nggak bener itu kalau Agung punya hutang sama saya. Saya akan menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalah ini dan meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas dugaan pengrusakan rumah saya itu. Saya akan melaporkan ke polda Lampung pada Senin (30/1),” tegasnya lagi. Mance mengungkapkan, pihaknya terpaksa melakukan pengosongan rumah itu karena menduga pemilik rumah sebelumnya diduga akan merubah rumah tersebut menjadi sebuah cafe. Dan ini terlihat adanya perubahan di dalam rumah tersebut. “Akhir – akhir ini keluarga pemilik rumah sebelumnya sudah keterlaluan karena diduga sudah melakukan pengrusakan rumah dengan dugaan akan membuat kafe di rumah itu. Dan saya melarangnya karena rumah itu sudah milik saya. Ada bukti kuitansi jual beli rumah dan surat kuasa untuk menjual rumah itu,” ungkapnya. (ben)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement