Responsive Advertisement
Permintaan Damai Penganiaya Murid SD Ditolak Hukum , Provinsi Ansori SH MH LAMPUNG - Permintaan damai oknum anggota DPRD Lampung, Watiah, yang diduga menganiaya anak SD hingga terdapat luka jahitan di kepala ditolak keluarga korban. Menurut kuasa hukum keluarga korban, Ansori SH MH, penolakan itu cukup berdasar mengingat kasus penganiayaan itu sudah dalam proses hukum. "Korban penganiayaan ini anak-anak di bawah umur, selain fisik dapat menganggunya secara psikis," ujar Ansori, yang juga Ketua Presidium LSM KPKAD. Ditandaskan Ansori, kendati ada perdamaian namun tidak menghapus sifat pidana. "Karena dalam kasus ini bukan delik aduan," ujarnya. Pihaknya pun menyayangkan perilaku oknum wakil rakyat yang berasal dari Partai Gerindra itu. "Kami akan berkoordinasi dan meminta partainya untuk mengevaluasi kinerja wakilnya yang duduk di DPRD itu," urai Timbul Priyadi SH, yang juga kuasa hukum keluarga korban dari BAHU Nasdem ini. Seperti diketahui, peristiwa penganiayaan itu bermula ketika Watiah diduga melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap beberapa anak kelas VI Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Jagabaya I, Bandarlampung. Menurut Arya Nugroho (11), salah satu Korban dugaan penganiayaan oleh oknum anggota dewan itu, kejadian tersebut berawal pada saat dia dan kawan-kawannya (Ridho, Sugeng, dan Gupron) yang notabene satu sekolah dengan anak pelaku (Daffa) bermain ke rumah pelaku pada Rabu malam, 14 November 2012. Pada malam itu, sesampainya di rumah pelaku, beberapa temannya masuk ke rumah pelaku bersama Daffa. Sementara, korban disuruh Ridho membeli nasi uduk senilai karena Ridho punya duit Rp5000 dan temannya yang lain masuk ke rumah Daffa. Ketika pulang dari membeli nasi uduk, teman-temannya pada saling suruh untuk membukakan pintu, Daffa menyuruh temannya yang lain untuk membuka pintu, karena Daffa tidak mau. Melihat hal itu, Sugeng salah satu temannya menyuruh Daffa untuk membuka pintu. Selanjutnya, Sugeng naik ke atas mengambil beberapa barang, korban bersama Gupron dan Daffa ada dibawah. Sebenarnya Gupron mengetahui rencana Sugeng tetapi dia tidak ikut terlibat dan tidak menyampaikan kepada Daffa. Korban dipaksa oleh Sugeng dan Ridho untuk menyimpan barang yang diambil oleh Sugeng, jika tidak mau menyimpan barang tersebut maka korban akan “dicentangin” atau dipukul. Barang-barang yang diambil oleh Sugeng berupa jam tangan, charger hp Handpone dan Handpone. Setelah kejadian malam itu, Daffa diberi tahu oleh Gupron bahwa kawan-kawannya mengambil barang dari rumahnya dan disimpan oleh Korban. Pada hari Kamis, 15 Nopember 2012 ketika berada disekolah, Daffa di pangil oleh salah satu guru yang bernama Ahyuni. Dan korban dipanggil oleh Sugeng dan disuruh pulang untuk mengambil barang-barang yang diambil oleh Sugeng. Karena korban menyimpannya dengan rapi dikamar atas paksaan Sugeng dan Ridho selama 1 (satu) bulan, dengan maksud mendinginkan suasana, barang tersebut langsung diserahkan oleh korban kepada Ahyuni. Pada keesokan harinya, Jumat 16 Nopember 2012, Ibu Ahyuni memanggil Daffa dan kawan-kawan yang pada saat kejadian berada di rumah pelaku dan digiring ke salah satu ruangan. Pelaku langsung menampar Daffa (anaknya), Sugeng (sambil berucap, kamu ya yang mengambil hp saya, kata Sugeng tidak padahal dia yang mengambil). Setelah itu langsung dipukulin semuanya. Pada saat dipukul, Sugeng menjerit “ampun bu-ampun bu” dan gurunya pun menyuruh pelaku bersabar. Pelaku justru menimpali dengan bahasa,"kamu orang ini kurang ajar!" Bahkan, pelaku sangking tak puas dengan menggunakan tangan kemudian membuka sepatu dan memukuli anak-anak itu (Sugeng, Rhido, Gupron dan Korban) dengan “hak Sepatu” minus Daffa (anaknya). Akibat pemukulan ini, korban luka di kepala dan baju batiknya dipenuhi darah. Melihat darah mengucur, pelaku langsung membawa korban ke Rumah Sakit Graha Husada Bandarlampung untuk diobati. Sesampainya di Rumah Sakit, korban langsung ditangani dokter dan kesimpulannya korban mengalami luka di kepala dengan 3 Jahitan (Bukti terlampir dalam kwitansi pengobatan). Setelah selesai berobat di Rumah Sakit, korban diantar pulang oleh pelaku ke rumahnya dan bertemu dengan nenek korban yang selama ini merawat dan menjaga serta membesarkan korban. Untuk menutupi perbuatannya, pelaku menyampaikan kepada neneknya bahwa korban jatuh saat disekolah, kebetulan pada saat itu pelaku berada disekolah dan mengantarnya berobat serta mengantarnya pulang sampai ke rumah. Korban sebelumnya di paksa untuk diam. "Nanti yang bicara dengan nenek kamu biar saya!" ancam pelaku, cerita korban. Hj. Supartini (Nenek korban) tidak menaruh kecurigaan apapun dari kejadian tersebut. Baju yang berlumuran darah dicuci karena akan digunakan sang cucu untuk sekolah. Belakangan baru ia mengetahui bahwa sang cucu menjadi korban penganiayaan oknum anggota DPRD tersebut. Sontak saja, sang nenek menangis hingga bercucuran air mata dan mengurut dada serta mengucap istighfar dengan suara terbata-bata. Hj. Supartini tidak menyangka karena pelaku sangat berlaku baik. Bahkan telah dua kali pelaku mengantar berobat jalan, dan ketiga kalinya korban diantar oleh orang yang tidak dikenal (diduga kerabat pelaku) untuk melepas jahitan di kepala korban di Rumah Sakit pada hari Jum’at. Ternyata kebaikan yang diberikan pelaku adalah untuk menutupi perbuatan penganiayaan terhadap cucunya. Terhadap peristiwa di atas, keluarga korban, yakni Arya Nugroho dan Gupron bersepakat menunjuk Badan Advokasi Hukum (BAHU) Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Provinsi Lampung dan Komite Pemantau Kebijakan dan Anggaran Daerah (KPKAD) untuk mendampingi korban dalam melakukan upaya litigasi maupun non litigasi, sesuai dengan Surat Kuasa yang ditandatangani pada Jumat, 23 Nopember 2012.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement