Responsive Advertisement
Eva Dwiana Enggan Komentari Terkait Majelis Taklim Rachmat Hidayat Eva Dwiana (ist) BANDARLAMPUNG, FS - Ketua Majelis Taklim Rachmat Hidayat (MTRH) Provinsi Lampung Eva Dwiana alias Bunda Eva, sepertinya enggan berkomentar terkait adanya dugaan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk kepentingan rutinitas yayasan pengajian akbar yang dipimpinnya. Tidak ada komentar dari Istri Walikota Bandarlampung Herman HN, justru memunculkan kejadian lucu. Peristiwa lucu ini terjadi di Komisi V DPRD Lampung, saat jurnalis ingin mewawancarai salah satu wakil rakyat yang juga menjabat sebagai Ketua MTRH itu. Peristiwa ini bermula saat jurnalis memasuki ruang komisi V DPRD Lampung dan bertemu dengan staf dari wakil rakyat tersebut. Kemudian, staf itu menyuruh jurnalis untuk mengisi buku tamu sebagai salah satu syarat untuk mewawancarai Bunda Eva, sekitar pukul 12.00 WIB. Baru setelah itu staf tersebut memberi buku tamu tersebut ke Bunda Eva Tak lama berselang, salah satu ajudan Eva Dwiana menemui dan bertanya "mau wawancana apa," katanya. Kemudian, jurnalis itu menjawab, saya ingin wawancara terkait MTRH yang sudah menjadi sangat fenomenal di Kota Tapis Berseri. Baru setelahnya, ajudan itu pun masuk ke ruang rapat paripurna komisi V DPRD untuk menyampaikan maksud dari kedatangan wartawan Fajar Sumatera. Sekitar 10 menit, ajudan dari Istri orang nomor satu di Kota Bamdarlampung itu pun kembali menghampiri wartawan tersebut sembari berkata, "ibu wawancarain terkait peringatan hari Aids sedunia saja, karena pengajian MTRH itu biasa aja," tukasnya. Pertanyaan itu, langsung dijawab halus oleh jurnalis. "yah tidak apa-apa bang, yang penting bisa bertemu dulu dengan Bunda Eva," seraya ajudan itu kemudian masuk kembali ke ruang rapat paripurna tersebut. Namun sayangnya, ajudan istri Herman HN itu, tak kunjung keluar, akhirnya, sekitar pukul 13.30, Bunda eva beserta ajudan keluar dari ruang rapat komisi V DPRD Lampung menuju kendaraannya sembari berjalan kencang dan akhirnya sang wartawan yang saat itu tengah mengetik berita, kehilangan narasumbernya. Untuk diketahui, MTRH ini diduga menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk kepentingan rutinitas yayasan pengajian akbar yang dipimpinnya. Bagaimana tidak, setiap ada perhelatan besar MTRH, ustad-ustad kondang Nasional sering datang untuk mengisi acara. Seperti Ustad Soleh Mahmud alias Ustad Solmed yang pernah diundang mengisi tausiyah keagamaan di MTRH, 12 November 2015 lalu di Masjid Al Furqon. Dari sumber Tribunnews.com, Ustad yang sering wara wiri di stasiun tv ini mematok tarif hingga Rp10 juta. Belum lagi Ustad-Ustad kondang lainnya yang pernah diundang, seperti, Ustad Maulana, Ustadzah Dedeh Rosidah Syarifudin alias Mamah Dedeh, Ustad Wijayanto, dan lain-lain. Jika di rata-ratakan tarif ustad-ustad tersebut Rp10 juta sekali tampil, dan dalam setahun bisa 3 hingga 4 kali. Maka biaya yang dikeluarkan oleh MTRH bisa mencapai Rp30 juta hingga Rp50 juta. Tidak sampai disitu, rata-rata acara yang digelar oleh Terkait hal ini, Ketua KPKAD (Komisi Pemantau Kebijakan Anggaran Daerah) Lampung Gindha Anshori Wayka, mengatakan, setiap lembaga yang terdaftar resmi memungkinkan mendapat bantuan hibah dari pemerintahan pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. “Kalau terdaftar di Kesbangpol boleh-boleh saja dibantu, termasuk Rahmat Hidayat, sama dengan Karang Taruna, Pramuka, dan KNPI,” kata dia. Namun demikian, jangan sampai dana yayasan pengajian MTRH yang diduga bersumber dari Pemkot Bandarlampung lebih besar dari anggaran organisasi lain, seperti KNPI, Karang Taruna, dan Pramuka yang merupakan organisasi resmi pemerintah. “Selama dananya dapat dipertanggungjawabkan tak ada masalah, tapi jangan sampai menjadi rancu soal nilai karena nilai bantuan hibah yayasan Rahmat Hidayat tidak harus lebih besar dari organisasi resmi pemerintahan lainnya,” terang dia. Menurut dia, dana yayasan pengajian MTRH yang memang patut untuk kita curigai. Hal ini jika dilihat dari kegiatan yang dilakukan yayasan MTRH yang selalu jor-joran dan besar. “Menenggarai apakah yayasan milik Eva Dwiana menggunakan dana daerah atau tidak, kita bisa telisik pada saat milad atau ulang tahunnya yang mengadakan senam dengan hadiah umroh adalah yayasan Bunda Eva. Tetapi pemenangnya diduga mengurusi persyaratan umroh di Pemkot Bandarlampung,” ungkapnya. Diterangkannya lagi, bahwa yayasan pengajian MTRH menggunakan dana yang jumlahnya fantastis. Misalnya, setiap kegiatannya selalu menyewa bilboard jumlahnya hampir puluhan dan juga mengundang penceramah-penceramah kondang dari Jakarta. "Bayangkan saja ini hampir 2-3 kali dalam satu bulan, berapa banyak jumlah dananya," ungkapnya. Dirinya melanjutkan, MTRH seharusnya mengklarifikasi sumber dana agar tidak timbulnya fitnah. "Kita memberikan kritik untuk lebih terang dan membantu mereka jauh dari fitnah. Jelaskan sumber dana itu, apakah usaha kebon karet atau mendapat funding dari negara lain," tegasnya. Pengajian, sambungnya, tidal boleh ada kepentingan untuk mendompleng elektabilitas dan popularitas. Pasalnya, mendompleng agama untuk hal tersebut sangat dilarang. "Nanti kena marah Tuhan, kalau sudah marah kuasa manusia itu bisa langsung dicabut," pungkasnya.(ZN) Berita Kota home Friday, December 02, 2016

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement