Responsive Advertisement
Fajar Sumatera, 20102016 Yosi Rizal Anggap Sangsang Pembohong BANDARLAMPUNG,FS—Guna mencari dan mengumpulkan data yang lengkap, penyidik Subdit II Direktorat Kriminal Umum Polda Lampung terus mendalami kasus setoran fee proyek senilai Rp14 miliar. Tim penyidik Kamis (20/10), memeriksa saksi, Sangsang sebagai salah satu rekanan yang ikut menyetor uang senilai Rp3,5 miliar. Sangsang diperiksa didampingi kuasa hukumnya, Ginda Ansori di ruang Subdit II Ditkrimum Polda Lampung. Pada pemeriksaan kali ketiga ini saksi Sangsang dicecar pertanyaan seputar rekaman video dalam pertemuan dua kali di Hotel Nusantara pada 20 Juni dan 27 Juni 2016. “Klien kami ditanya seputar rekaman video di hotel Nusantara. Pertemuan pertama 20 Juni 2016 di restoran depan kolam Renang Hotel. Pertemuan kedua di lobby hotel pada 27 Juni 2016,” ujar Ansori, Kamis (20/10). Sementara Sangsang salah satu rekanan yang telah menyetorkan uang senilai Rp 3,5 miliar untuk setoran proyek tahun 2016 di Dinas PU Pemerintah Provinsi Lampung, membeberkan aliran dana yang sudah disetornya, sebanyak tiga kali. Menurut dia, setoran pertama terjadi 5 April 2016, uang sebesar Rp 1 miliar diserahkan kepada Djoko Prihartanto di rumah Indra Ismail mantan anggota DPRD Lampung sekitar pukul 16.00 Wib dan disaksikan Indra Ismail, Sangsang sendiri dan Eka Wahyuni (anak Sangsang). Kemudian lanjut dia, pada 12 April 2016 setelah dihubungi Farizal Badri Zaini dan sepengetahuan Djoko dimintai Sangsang kembali menyerahkan uang sebesar Rp. 1,5 Milyar kepada Yosi Rizal anggota DPRD Lampung Fraksi PDIP Lampung, di rumah Yosi Jalan Sultan Agung Gang Raden Saleh sekitar pukul 16.30 Wib. “Terakhir 26 April 2016 uang Rp 1 miliar saya serahkan kepada Djoko Prihartanto di lokasi basement kantor gubernur Lampung dan saudara Djoko Prihartanto menandatangani kwitansi tersebut,” kata dia. Sangsang mengatakan, dirinya percaya Djoko Prihartanto dan Farizal BZ karena keduanya merupakan PNS pemrov Lampung dan punya jabatan. “Saya percaya karena pekerjaan mereka jelas, kantornya jelas, ada jabatan dan pakai jengkol,” kata dia. Semua dana yang diserahkan tersebut dengan alasan untuk investasi dan apabila ada Paket Pekerjaan di Dinas PU Provinsi Lampung Tahun 2016 maka akan diberikan pekerjaannya sebagaimana nilai dana yang telah diserahkan. ‪Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Lampung Yosi Rizal mengaku tidak pernah menerima uang dari Sangsang meskipun mengenalnya. “Saya tidak pernah terima, itu bohong besar, karena itu urusan sama adik saya, dia (Sangsang) bagian dari tim Djoko dan Farizal, banyak orang yang juga setor sama Sangsang,” terangnya. Bahkan Yosi mengaku akan melaporkan balik Sangsang karena telah melakukan pencemaran nama baik. Sebab, dirinya tidak pernah merasa ada sangkut-paut dengan urusan proyek-proyek tersebut. “Kita bisa saja laporkan dia, karena saya tidak pernah terlibat, dengan urusan itu, karena itu urusan sangsang dengan adik saya itupun sudah lama, sebelum kasus ini mencuat,” ungkapnya. Diketahui kasus setoran proyek senilai Rp 14 miliar yang dilaporkan Djoko Prihartanto mantan Kasubbag Sarana dan Prasarana Bakorlu Pemprov Lampung ke Polda Lampung dengan terlapor Farizal Badri Zaini Mantan Kepala Biro Perekonomian Pemrov Lampung sudah ditetapkan tersangka. Benny NA Puspanegara Kuasa Hukum tersangka Farizal Badri Zaini meminta penyidik Polda Lampung mempertemukan Djoko dan kliennya agar kasus tidak melebar kemana-mana. “Kita minta penyidik pertemukan saja keduanya, Djoko dan Farizal, agar masalah ini tidak bias dan lari kemana-mana,” jelasnya. Terkait pertemuan di Hotel yang terekam video hal itu kata Benny, kliennya datang untuk menenangkan rekanan yang sudah marah dan mengancam keselamatan Djoko. “Kapasitas klien kami datang ke pertemuan itu untuk melindungi Djoko, karena Djoko dikejar-kejar rekanan, dia berlindung dibalik sosok Farizal yang merupakan pejabat pemrov,” kata dia. Erik Subarkah Kuasa Hukum Djoko Prihartanto membenarkan pengakuan Sangsang terkait setoran uang sebanyak tiga kali dengan total Rp 3.5 miliar. “Benar tiga kali setoran, itu sesuai BAP,” jelasnya. Terkait video pertemuan di Hotel Nusantara tersebut Erik mengatakan, pertemuan tersebut untuk membahas proyek dan adanya keinginan para rekanan yang meminta uang yang sudah disetor dikembalikan. (TM)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement