Responsive Advertisement
4 Pemberitahuan Pengaturan Akun Permintaan Pertemanan Lihat Semua Permintaan Pertemanan Masrodiah Imas 2 teman yang sama Amira Azza Ardiyan Pangestu 4 teman yang sama Junsang Hutagalung 5 teman yang sama Ekokenamon 11 teman yang sama Tamong Kakhindu Khairul Bakti adalah teman yang sama. Bahasa Indonesia · English (US) · Basa Jawa · Español · Português (Brasil) Privasi · Ketentuan · Iklan · Pilihan Iklan · Kuki · Lainnya Facebook © 2016 Kabar Berita Endri Kalianda 18 Agustus pukul 0:45 · Pak Gubernur, Apa Anda Bosnya F? ====== Bagaimana tidak sampai 14 Miliar dugaan penipuan setoran paket di Pemprov Lampung, gaya bahasa diduga F begitu meyakinkan JP bahwa ada kaitannya dengan BOS , alhasil korbannya cukup banyak dan nama-namanya ada dalam resume sebagaimana yang dilaporkan KPK... membaca resumenya geli sendiri, pantesan mereka cepat kaya dan kalau sial ya amblas juga soalnya miliaran hehehe... ====== TULISAN di atas adalah status pesbuk sahabat kita, Gindha Ansori. Inisial F itu adalah Fahrizal Badri Zaini, nama ini belakangan jadi gosip tersendiri di kalangan para pemborong, beberapa PNS yang merangkap jadi calo proyek serta di kalangan para penikmat kopi Lampung yang rasanya pahit. Pertama, dia punya jabatan (yang sebenarnya tidak seberapa strategis) yaitu, Karo Perekonomian Pemprov Lampung. Namun demikian, dia cukup mempunyai pengaruh untuk beberapa pemborong, berani setor langsung uang muka untuk dapat jatah proyek. Alasannya untuk si "bos". Banyak orang kemudian berasumsi, bos yang dimaksud Fahrizal Badri Zaini adalah Gubernur Lampung, M Ridho Ficardo. Meski kemudian, hukum yang bisa membuktikan apakah kasus itu benar atau tidak, pencemaran nama baik atau bukan, uangnya benar-benar disetorkan ke gubernur atau dimakan sendiri? Kedua, uang yang dilaporkan ke Polda Lampung dan KPK itu, bisa saja sekadar fenomena gunung es, bisa jadi ada yang jauh lebih besar dari semuanya. Akan tetapi, yang terendus awak media baru sekitar Rp.14 miliar, yang lewat jalan F itu. Sebaiknya kita ulas dulu dana ini. Sebab, memangnya seorang Kepala Biro punya kewenangan mengatur proyek? Maka, sangat menarik bahasa dia yang ada dalam percakapan whatsaap dan tersebar, diprint, dan difotokopi ke semua pihak tersebut. Salah satu kutipannya. "Ya lu tenang ja to semua dah terkondisikan, jgn gupek, klo lo gupek gw juga pening, kan gw yang tau gmana bos, oke." Sepertinya, anak buah yang berani mengirim "SOMASI" pada Gubernur Lampung ini tidak sabar. Sebab, laporan dan info setoran beberapa paket proyek itu sudah tersebar lebih dulu. Diberitakan media, beberapa di antaranya jadi berita utama. Oh ya, ada juga pemilik media yang sudah setor uang muka, eh, mulai dicicil pengembaliannya. Nanti kita ulas lain waktu, kenapa seorang pemilik media di Lampung bisa terjebak mainan jorok semacam ini. Sekarang kita bahas, siapa si "bos" ini? Meski mengerucut pada satu nama dan satu posisi, namun pembuktian secara hukum bolehlah berkilah. Bisa juga menumbalkan seseorang, taruhlah misalnya, atasan seorang Kepala Biro di level Pemrov itu ya hanya tiga orang. Yaitu, Sekretaris Provinsi (Sekprov), Wakil Gubernur (Wagub), dan Gubernur. Kembali pada pertanyaan. Siapa si bos? Sederhana saja, jika bukan tiga pejabat penting di provinsi ini, tidak butuh waktu lama, F dicopot dari jabatannya, proses hukum berjalan secara cepat dan uang muka setoran agar dapat jatah proyek beberapa pengusaha itu dikembalikan. Lalu, berkas di KPK dan Polda Lampung, hilang. Dan kita, sebagai masyarakat, lupa kalau pernah terjadi kasus semacam ini. Bahkan, F bisa saja nantinya punya media sendiri, jadi politisi atau bahkan, jadi kepala daerah. Atau seperti biasa, lazimnya para bandit di negara kita. Berubah jadi orang yang dari penampilannya, sangat alim? Pakai atribut yang mencerminkan ketaatan pada agama. Yah, meski kita tak boleh dan tidak punya hak menutup pintu taubat seseorang, namun kasus semacam ini yang sebenarnya membuat roda pereokonomian hanya dikuasai beberapa gelintir orang. Mentalitas pejabat semacam ini yang membuat semua proyek pemerintah berkualitas rendah, mudah rusak dan kembali, rakyat dirugikan. Oya, rakyat yang mana? Bukankah pertanyaan semacam ini sangat sering diucapkan para pejabat yang kini merasa sudah punya kuasa. Anggap sajalah, kita jawab. Rakyat pesbuk, Anda mau apa?! Nah, hampir lupa. Siapa pula "to" yang dimaksud sebagai balasan whatsaap itu? Nama panggilan "to" itu, hanya menyisakan inisial, yanto, tanto, minto...dlsb, yang semuanya pasti satu marga dengan Sutono. Pejabat Sekprov yang pernah kita tolak pengangkatannya. :-) Anggaplah ini edisi kelima dari serial tulisan "Menolak Sutono jadi Sekprov" meski penolakan itu sekadar angin lalu. Namun akan tetap terus berhembus sebelum diganti. :D Atau memang sebaiknya pejabat politisnya saja yang diganti karena sudah jadi "bos".

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Facebook

Responsive Advertisement
Responsive Advertisement
Responsive Advertisement